Aveneu Park, Starling, Australia

AIR: Jika dilihat seberapa pentingnya air bagi manusia,

 

AIR: MENJAGA
KETERSEDIAAN SUMBER KEHIDUPAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

 

 

 

DISUSUN
OLEH

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Nama               :
Yanti Herliani Hermawan

NPM               :
120310170052

Jurusan            :
Manajemen

 

FAKULTAS EKONOMI
DAN BISNIS

UNIVERSITAS
PADJADJARAN

 

SUMEDANG

 

2018

ABSTRAK

 

AIR: MENJAGA
KETERSEDIAAN SUMBER KEHIDUPAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

 

Air
merupakan sumber daya yang banyak sekali manfaatnya. Bahkan jika harus
diibaratkan, air bagaikan sumber kehidupan bagi seluruh makhluk hidup di muka
bumi ini. Manusia, misalnya, tidak dapat hidup lama tanpa adanya air di
sekitarnya. Keberadaan air memang melimpah di berbagai daerah, namun tidak
berarti daerah lain tidak mengalami yang namanya kelangkaan sumber air.

            Jika
dilihat seberapa pentingnya air bagi manusia, miris rasanya melihat perlakuan pada
air yang cenderung seenaknya. Yang seharusnya menjadi sumber daya untuk semua—bahkan
sekarang sudah menjadi hak asasi tersendiri—justru sangat sulit didapatkan bagi
kalangan tertentu. Air mungkin menjadi barang mewah bagi mereka yang hidup di
daerah kering dan kekurangan air, atau bahkan di daerah metropolitan yang
kebanyakan sumber airnya telah terkontaminasi.

            Dalam Islam, air memiliki peranan
yang sentral, terutama dalam melakukan ibadah sehari-hari dan menjaga
kebersihan diri serta lingkungan. Air menjadi simbol dari kebesaran Yang Maha
Kuasa. Maka perilaku seperti memboros-boroskan penggunaan air merupakan hal yang
tidak sepatutnya dilakukan.

            Maka dari itu perlu diadakan perubahan
perlakuan akan air oleh berbagai pihak: menggunakan dengan secukupnya dan bertanggung-jawab
bagi masyarakat pada umumnya; menggunakan teknologi yang efisien dalam
penggunaan air bagi perusahaan baik rumahan maupun industri; serta pembangunan
infrastruktur yang berkaitan dengan distribusi air demi tercapainya air dan
sanitasi layak untuk semua orang.

 

Kata kunci:
air, sumber kehidupan, kelangkaan air

KATA PENGANTAR

 

Bismillahirrahmaanirrahiim

Puji
dan syukur kehadirat Allah Swt. atas segala karunia serta nikmat-Nya sehingga
makalah yang berjudul “Air: Menjaga Ketersediaan Sumber Kehidupan dalam
Perspektif Islam” ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu, tanpa adanya
halangan yang berarti. Adapun penyusunan dari makalah ini adalah untuk memenuhi
tugas Tahap Persiapan Bersama di Universitas Padjadjaran.

            Untuk itu, saya mengucapkan banyak
terima kasih kepada ibu/bapak dosen Universitas Padjadjaran yang telah
menyampaikan bahan materi Tahap Persiapan Bersama berupa tujuh belas tema Sustainable Development Goals (SDGs)
serta semua pihak yang telah berkontribusi dalam penyelesaian makalah ini.

            Pemilihan tema didasarkan pada
keadaan saat ini yang memprihatinkan terkait penggunaan sumber daya yang
seharusnya bisa dinikmati semua orang namun realita membuktikan sebaliknya.
Semoga dengan adanya makalah ini, sedikitnya bisa meningkatkan kesadaran akan
pentingnya menjaga kelestarian sumber daya air.

            Saya menyadari bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna, terdapat banyak kesalahan baik dari aspek diksi,
ejaan, koherensi antar bahasan, tata bahasa, bahkan substansi yang terdapat
dalam makalah. Oleh karena itu, saya sangat terbuka bahkan mengharapkan kritik
maupun saran yang membangun sebagai bahan evaluasi.

 

 

Bandung, 10 Januari 2018

Penulis,

 

 

Yanti Herliani Hermawan

DAFTAR ISI

Abstrak
………………………………………………………………………………………………………………   i

Kata
Pengantar …………………………………………………………………………………………………..   ii

Daftar
Isi ……………………………………………………………………………………………………………   iii

Bab
I: Pendahuluan ……………………………………………………………………………………………   1

      1.1.      Latar
Belakang ………………………………………………………………………………………….   1

      1.2.      Rumusan
Masalah ………………………………………………………………………………………   2

      1.3.      Tujuan
Penulis …………………………………………………………………………………………..   2

Bab
II: Pembahasan ……………………………………………………………………………………………   3

      2.1.      Pentingnya
Air Bersih bagi Kehidupan Manusia ……………………………………………   3

      2.2.      Pentingnya
Air Bersih bagi Kehidupan Seorang Mukmin ……………………………….   5

      2.3.      Tantangan
dalam Menjaga Stabilitas Ketersediaan Air Bersih di Dunia ……………   7

      2.4.      Solusi
Permasalahan Langkanya Air Bersih di Dunia ……………………………………..   10

Bab
III: Penutup …………………………………………………………………………………………………   12

      3.1.      Kesimpulan
……………………………………………………………………………………………….   12

      3.2.      Saran
………………………………………………………………………………………………………..   12

Daftar
Pustaka ……………………………………………………………………………………………………   14

Bab I

PENDAHULUAN

 

1.1.  Latar Belakang

Tidak dapat dipungkiri, air memiliki
peranan yang vital bagi seluruh makhluk hidup bahkan ekosistem di bumi. Air membantu
manusia, hewan, dan tumbuhan untuk bertahan hidup. Air juga menjaga berbagai
siklus kimia maupun biologi yang ada di bumi untuk tetap berjalan. Tanpa air, tidak
akan ada kehidupan seperti yang kita ketahui saat ini.

Lalu muncul pertanyaan, air yang seperti
apakah yang bisa menopang jalannya kehidupan? Tidak semua air memiliki fungsi
yang sama. Air di laut ataupun di danau memang bisa menjaga berbagai siklus
alamiah untuk tetap berjalan—misalnya siklus hidrologi sebagai biang bagaimana
hujan bisa terjadi. Akan tetapi, yang menjadi fokus bahasan adalah air yang bisa
membantu manusia untuk mempertahankan hidupnya.

Secara garis besar, manusia membutuhkan
air untuk mengatasi dahaga—sebagai respons natural akan kurangnya cairan dalam
tubuh; menjaga dirinya agar tetap bersih; serta membuat lingkungan di
sekitarnya tetap higienis. Sebagian besar dari kebutuhan tersebut hanya bisa
dipenuhi oleh air bersih, yakni air yang tidak terkontaminasi baik oleh bakteri
jahat maupun zat kimia berbahaya, serta umumnya tidak memiliki bau, warna,
ataupun rasa.

Dalam Islam sendiri, air merupakan
elemen penting untuk menjaga kesehatan sekaligus menjaga kebersihan manusia.
Mengingat Islam sangat menghargai kebersihan, tak ayal kebutuhan akan air
bersih baik untuk membersihkan diri—seperti halnya berwudhu ataupun
mandi—sampai membersihkan lingkungan sekitar sangatlah tinggi. Tidak sah
apabila seseorang melakukan ibadah dalam keadaan kotor—dalam hal ini kotor
secara harfiah.

Sayangnya, tidak semua orang memiliki
akses yang mudah akan air bersih. Hal-hal seperti pertumbuhan penduduk sampai
perubahan iklim menjadi faktor utama dalam terjadinya kelangkaan sumber air di
berbagai belahan dunia. Padahal, kebutuhan akan air bersih adalah mutlak bagi
semua orang, sebagaimana pada 28 Juli 2010, melalui Resolusi 64/292, PBB
merekognisi hak asasi atas air dan sanitasi sebagai bagian dari realisasi
keseluruhan hak asasi manusia.

Maka dari itu, kesadaran akan pentingnya
air bersih dan sanitasi yang layak patut untuk terus ditingkatkan di kalangan
masyarakat. Hal ini menjadi sangat penting terutama bagi umat Islam yang hampir
tidak bisa lepas dari keterlibatan air bersih dalam kehidupannya.

 

1.2.  Rumusan Masalah

1.      Seberapa
penting air secara umum bagi kehidupan manusia?

2.      Seberapa
penting air secara khusus bagi kehidupan seorang mukmin?

3.      Bagaimana
kondisi ketersediaan air bersih di dunia?

4.      Bagaimana
solusi agar krisis air bersih bisa ditangani demi kelangsungan hidup manusia pada
masa sekarang dan masa depan?

 

1.3.  Tujuan Penulis

1.      Memperkuat
keimanan serta ketaqwaan kepada Allah Swt.

2.      Memahami
pentingnya kebutuhan akan air bersih secara umum bagi manusia dan secara khusus
bagi umat Islam.

3.      Menumbuhkan
kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian air bersih.

4.      Meminimalisir
terjadinya pemborosan air.

5.      Mewujudkan
akses air bersih yang layak dan terjangkau bagi semua orang.

Bab II

PEMBAHASAN

 

2.1.  Pentingnya Air Bersih bagi
Kehidupan Manusia

Air menjadi sesuatu yang sangat esensial
bagi manusia, apalagi mengetahui bahwa sekitar 60?70 persen dari tubuh manusia
terdiri atas air (Rye, Wise, Jurukovski, DeSaix, Choi, & Avissar, 2016). Kegiatan
metabolisme tubuh hampir selalu membutuhkan air: mulai dari sebagai medium
dalam pembuatan darah manusia; sebagai zat pelarut yang membantu manusia dalam
proses pencernaan makanan; sebagai salah satu pengrontrol temperatur tubuh
selain lemak; sebagai lubrikan dalam sendi agar tidak terjadi gesekan
berlebihan saat bergerak; serta membantu dalam proses pembersihan sel tubuh
dari berbagai kotoran. Disamping itu, kegunaan air yang tidak kalah penting
dalam tubuh manusia adalah perannya dalam menjaga kadar pH dalam tubuh agar
tetap seimbang di kisaran pH 7.4 (Walker, 2017).

Cara manusia menyediakan air untuk
berbagai kebutuhan tersebut di atas salah satunya adalah dengan mengonsumsi air
secara langsung sebagai minuman. Dalam Al-Qur’an, kegunaan air yang satu ini
tercantum pada Surat Al-Furqan ayat 49 (Departemen Agama RI, Surat Al-Furqan Ayat 49, 2018):

 

 

Cara lain yang digunakan oleh manusia
adalah melalui konsumsi makanan yang mengandung air dan kandungan nutrisi
lainnya yang sedikit banyak berkontribusi dalam pemenuhan gizi dan kesehatan
tubuh. Kebanyakan makanan memerlukan air dalam proses pertumbuhannya dari tanah
sampai ke tahap siap saji di meja makan. Mengenai hal tersebut, Al-Qur’an Surat
An-Nahl ayat 65 telah membahas betapa dahsyatnya kegunaan air di muka bumi (Departemen Agama RI, Surat An-Nahl Ayat 65, 2018):

 

 

Setiap harinya, tubuh kehilangan sekitar
dua sampai tiga liter air per hari dengan rincian 1,4 liter dalam sistem
ekskresi pada ginjal; 0,8 liter dalam sistem eksresi pada kulit; 0,8 liter
dalam sistem ekskresi pada paru-paru; dan sebagian kecil lainnya hilang pada
usus (al-Sheikh, 1996). Ada yang hilang, tentu saja harus ada
gantinya. Bisa dibayangkan betapa banyaknya kebutuhan air bersih hanya untuk
menggantikan jumlah air dalam tubuh seorang manusia setiap tahunnya. Bak pedang
bermata dua; selaras dengan tingginya kebutuhan air bersih baik untuk individu
maupun kebutuhan sosial lainnya, semakin kritis pula persediaan air bersih yang
layak bagi manusia itu sendiri.

Sebagai sumber kehidupan bagi manusia,
air haruslah memiliki nilai yang lebih tinggi di mata masyarakat sehingga
keinginan untuk menggunakannya dengan

sembarangan
tanpa memperhatikan dampak panjang bisa diminimalisir. Bagaimana jadinya jika
air musnah dari muka dunia, betapa manusia tidak bisa lagi menjalankan
kehidupan dengan normal—atau bahkan akankah masih ada yang namanya kehidupan?

 

2.2.  Pentingnya Air Bersih bagi
Kehidupan Seorang Mukmin

Penekanan kembali kepada air sebagai
sumber kehidupan, orang-orang Islam percaya bahwa air adalah berkah dari Allah
Swt. sebagai bukti nyata dari kebesaran-Nya (Stacey, 2009). Air memang erat kaitannya dengan
kehidupan manusia, bahkan awal mula kehidupan pun tidak bisa terlepas dari
adanya air, sebagaimana Al-Qur’an dalam Surat Al-Anbiya ayat 30 menjelaskan (Departemen Agama RI, Surat Al-Anbiya Ayat 30, 2018):

 

 

Dengan adanya air, segala sesuatu
dijadikan-Nya hidup, ini merupakan tanda kebesaran dari Yang Maha Kuasa yang
patut kita jaga kelestariannya. Maka tidak berlebihan rasanya kalau menyebut
air sebagai salah satu sumber sebuah kehidupan. Ataupun yang lebih nyata lagi, bagaimana
awal mula seorang manusia bisa terlahir; lagi-lagi peranan air tidak bisa
dipandang sebelah mata, Al-Qur’an menjelaskan fenomena keterlibatan air dalam
proses penciptaan seorang manusia dalam Surat Al-Furqan ayat 54 (Departemen
Agama RI, Surat Al-Furqan Ayat 54, 2018):

 

 

Dari sebelum lahir, manusia sudah
terikat dengan air. Sepanjang hidupnya—bahkan sampai akhir hayatnya ketika akan
dimandikan—seorang manusia pun masih membutuhkan zat yang bernotasi ilmiah H2O
ini.

Orang-orang mukmin terdahulu tinggal di
daratan Arab yang notabene dipenuhi oleh gurun-gurun pasir, membuatnya tidak
heran jikalau konservasi akan air menjadi perhatian yang serius (Stacey, 2009). Dalam Al-Qur’an
sendiri, kata ‘air’—dalam bahasa Arab—disebutkan lebih dari 60 kali, mengingat
perannya yang sangat sentral dalam Islam, maka pemborosan akan air bersih
menjadi hal yang tidak seharusnya dilakukan.

Air secara spesifik digunakan oleh umat
Islam—selain untuk kebuhan yang jelas seperti konsumsi—yakni untuk berwudhu
setiap sebelum menunaikan ibadah salat. Jauh daripada itu, seorang mukmin harus
senantiasa dalam keadaan suci agar salatnya menjadi sah. Sebagaimana dijelaskan
dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa’ ayat 43 (Departemen Agama RI, Surat An-Nisa’ Ayat 43, 2018):

Bahwa seorang mukmin tidak diperbolehkan
dalam keadaan junub saat akan menunaikan ibadah salat, cara menghilangkan
segala macam kotoran fisik tersebut adalah dengan mandi dan berwudhu.
Kebersihan dalam Islam merupakan sebagian dari iman, maka segala sesuatunya
diharapkan dalam keadaan bersih. Keadaan fisik yang bersih, pakaian-pakaian
yang bersih, rumah yang bersih, tempat ibadah yang bersih, serta lingkungan
secara umum yang bersih merupakan tingkatan yang harus kita utamakan sebagai
umat Islam.

 

2.3.  Tantangan dalam Menjaga Stabilitas
Ketersediaan Air Bersih di Dunia

Sebelum membahas mengenai kelangkaan,
alangkah baiknya menilik sedikit daripada awal mula bagaimana air bersih ada di
muka bumi dan dapat digunakan untuk keperluan sehari-hari. Dalam Al-Qur’an
Surat Al-Hajj ayat 63 (Departemen Agama RI, Surat Al-Hajj Ayat 63, 2018), bahwasanya sumber
air yang ada di bumi ini tak lain berasal dari hujan. Allah Swt. menurunkan air
hujan agar terjadi sebuah kehidupan di mana banyak makhluk hidup bernaung.

 

Demi menjaga ketersediaan sumber air tersebut,
air-air tersimpan dalam berbagai bentuk—baik itu likuid, solid, maupun gas.
Dalam bentuk likuid, air tersimpan di berbagai tempat mulai dari sungai, danau,
rawa, dan lautan. Dalam bentuk solid, air tersimpan dalam wujud es dan bisa
ditemui di kutub-kutub bumi maupun puncak gunung-gunung tinggi di dunia.
Sedangkan dalam bentuk gas, air tersimpan dalam bentuk uap, yang termudah bisa
ditemui di gumpalan awan hujan.

Keseimbangan air di muka bumi juga
didukung dengan adanya fenomena alam yang disebut dengan siklus air atau siklus
hidrologi, di mana air berubah wujud dari wujud satu ke yang lain sedemikian
hingga regenerasi air dapat terus terjadi. Fenomena alam ini diabadikan dalam
Al-Qur’an dalam beberapa surat, salah satunya adalah Surat Fathir ayat 9 (Departemen
Agama RI, Surat Fatir Ayat 9, 2018):

 

Dengan adanya sumber air yang—cukup—bisa
dikatakan melimpah, setidaknya hingga saat ini, ironisnya masih ada saja
masyarakat di luar sana yang kesulitan bahkan untuk menerima satu tegukan air
bersih. Bahkan dengan siklus air yang idealnya menjaga stabilitas persediaan
air di dunia, masih saja terdengar kabar wabah penyakit diare, disentri,
cacingan, dan bejibun penyakit akibat sanitasi buruk lainnya.

Kelangkaan sumber air bersih tidak luput
dari penggunaan air yang berlebih dan cenderung boros; juga didukung dengan
meningkatnya jumlah penduduk di dunia sehingga penggunaan air bersih per
harinya mengalami kenaikan drastis dibanding dekade sebelum-sebelumnya. Dalam
agrikultur misalnya, sekitar 70 persen air bersih di dunia digunakan untuk
keperluan irigasi. Dampak lainnya dari sektor agrikultur adalah kemungkinan
terjadinya kerusakan permanen pada daerah aliran sungai.

Masalah lain terkait pemborosan air
bersih adalah adanya food waste.
Sekitar 30?40 persen dari semua makanan yang diproduksi di dunia terbuang
sia-sia, baik terbuang saat proses produksi dan distribusi dari ladang, maupun
terbuang menjadi makanan sisa ketika telah sampai pada meja makan kita.
Mengetahui 70 persen air bersih di dunia dimanfaatkan pada sektor
agrikultur—yakni saat pembuatan makanan yang entah sadar atau tidak kita
buang—menjadikan 21?28 persen air bersih dunia hilang hanya dari food waste (The World Water Council, World Wildlife Fund (WWF)
and The Coca-Cola Company, 2014).

Tentu saja saja hal-hal yang sifatnya sebuah
perilaku, lambat laun bisa digiring menjadi lebih baik. Seperti kebiasaan
membuang-buang makanan atau melakukan pemborosan penggunaan air bisa dilakukan dengan
menumbuhkan rasa kesadaran pada masyarakat luas. Namun, akankah hal itu cukup?
Akankah dampaknya masih bisa dirasakan 10 tahun, 20 tahun, 100 tahun lagi?
Perlu diadakan upaya jangka panjang yang terukur dan terencana agar air tidak
berubah menjadi serupa berlian—langka, mahal, dan tidak semua orang bisa
menikmatinya.

 

2.4.  Solusi Permasalahan Langkanya Air
Bersih di Dunia

Kelangkaan sumber air bersih bukanlah suatu
masalah dengan satu dalang. Semua pihak tentu andil peran dalam
perkembangannya. Sebut saja pelaku rumah tangga atau masyarakat umum, pelaku
industri, pemerintah, bahkan alam. Oleh karena itu, diperlukan solusi yang
sinergis yang dilakukan bersama anugerah Allah Swt. yang sangat berguna ini
tetap bisa dinikmati oleh anak cucu kita nanti.

Masyarakat umum digiring pada kesadaran
bahwa masih ada di luar sana yang kekurangan air, sehingga perilakunya dalam
memboroskan air—baik sengaja maupun tidak—bisa dikurangi. Menumbuhkan kesadaran
merupakan langkah awal dalam upaya kita menjaga kelestarian air. Dan lagi,
sikap boros bukanlah sikap yang terpuji—dalam agama apapun.

Sekarang mengenai para pelaku industri
maupun rumahan dalam mengolah bahan dagangannya, hendaknya lebih peduli akan
lingkungan. Tentu akan lebih baik jika terdapat aturan resmi dari pihak
berwenang akan penggunaan air, pengolahan limbah agar tidak mencemari air, dan
lain sebagainya.

Untuk mencapai suatu keadilan, terutama
dalam akses penerimaan air bersih dan sanitasi yang layak, pemerintah bisa
menambah fokus pembangunan dalam peningkatan pembangunan infrastruktur yang
berkaitan langsung dengan distribusi air ataupun penyulingan air. Investasi
pada teknologi yang efisien akan penggunaan air

pun
bukan berarti tidak mungkin. Kita hanya perlu asa dan kesadaran agar fenomena
kelangkaan air menjadi jarang menyapa telinga.

Bab III

KESIMPULAN

 

3.1.  Kesimpulan

Penduduk yang semakin bertambah, iklim
yang kian lama sulit dikendalikan, serta penggunaan air dalam jumlah besar pada
sektor industri yang kurang efisien tentu memiliki dampak yang signifikan
terhadap ketersediaan air bersih baik di negara-negara berkembang atau negara
maju sekalipun. Dibutuhkan adanya upaya bersama guna mencegah hal-hal yang
tidak diinginkan terjadi. Sebagai manusia yang beradab sekaligus sebagai umat
Islam yang taat, hendaknya kita tidak melakukan perilaku boros dalam hal
apapun—tak terkecuali dalam hal penggunaan air dalam kehidupan sehari-hari.
Mulai dengan kebiasaan kecil seperti mematikan keran air ketika tidak digunakan;
tidak menyisakan makanan dan minuman yang kita konsumsi; tidak mencemari
sumber-sumber air dengan tidak membuang sampah sembarangan ataupun membuang
sampah rumah tangga ke sungai; serta berbagai tindakan lainnya. Selebihnya bisa
disesuaikan menurut pada profesi masing-masing insan, para pelaku industri bisa
menerapkan teknologi penghematan air maupun pengolahan limbah guna mencegah
kontaminasi pada sumber air dan pemerintah bisa mulai meniti harapan masyarakat
dengan membangun infrastruktur pendistribusian air maupun penyulingan air. Semuanya
menjadi mungkin ketika tidak hanya satu pihak yang beraksi; bak roda-roda gigi
pada sebuah mesin, mustahil rasanya mesin tersebut akan berfungsi jika tidak
semua komponen melakukan pergerakan.

 

3.2.  Saran

Mengutip apa yang telah ada pada
kesimpulan, perubahan dalam jangka panjang memerlukan kolaborasi dari berbagai
pihak, tak terkecuali dalam masalah kelangkaan air bersih ini. Air bersih yang
dibutuhkan oleh manusia pada umumnya serta umat Islam yang tidak bisa
dipungkiri memiliki banyak kaitan dengan air dalam peribadatan, menjadikan
hal-hal di bawah ini penting untuk dilakukan.

 

§  Masyarakat
umum bisa menanamkan pada diri sendiri bahwa perilaku pemborosan pada air
bukanlah perilaku yang terpuji; mulai menggunakan air dengan tanggung jawab
dalam hati, bahwa penggunaan air diharuskan secukupnya, tidak perlu berlebihan;
menghabiskan makanan dan minuman setelah melakukan kegiatan konsumsi, demi
meninimalisir food waste.

§  Para
pengusaha mulai berinvestasi pada teknologi hemat air, distribusi yang lebih
ramah lingkungan, pengolahan limbah agar sumber air di sekitar pabrik tidak
ikut terkontaminasi, serta menerapkan etika ramah lingkungan secara umum di
lingkungan industri.

§  Pemerintah,
yang tentunya memiliki wewenang lebih dalam hampir segala hal dalam sektor
kenegaraan, bisa membuat peraturan resmi mengenai pemborosan air—hal ini
mungkin, karena PBB saja telah meratifikasi hak atas air sebagai salah satu hak
asasi manusia. Lebih daripada itu, pemerintah, sebagai pihak yang menjunjung
tinggi kesejahteraan rakyatnya, bisa meningkatkan pembangunan infrastruktur
terkait dengan penyediaan air bersih khususnya di daerah tertinggal serta
sebagai pihak nomor satu yang—semoga—bisa merubah pola pikir masyarakat melalui
iklan layanan masyarakat dengan konten yang membangun kesadaran akan pentingnya
menjaga kelestarian sang sumber kehidupan.

.

DAFTAR PUSTAKA

 

al-Sheikh, A. F.-H. (1996). Water and Sanitation
in Islam. Alexandria: World Health Organization.
Departemen
Agama RI. (2018). Surat Al-Anbiya Ayat 30. Dipetik Januari 9, 2018,
dari TafsirQ: https://tafsirq.com/21-al-anbiya/ayat-30
Departemen
Agama RI. (2018). Surat Al-Furqan Ayat 49. Dipetik Januari 9, 2018,
dari TafsirQ: https://tafsirq.com/25-al-furqan/ayat-49
Departemen
Agama RI. (2018). Surat Al-Furqan Ayat 54. Dipetik Januari 9, 2018,
dari TafsirQ: https://tafsirq.com/25-al-furqan/ayat-54
Departemen
Agama RI. (2018). Surat Al-Hajj Ayat 63. Dipetik Januari 9, 2018, dari
TafsirQ: https://tafsirq.com/22-al-hajj/ayat-63
Departemen
Agama RI. (2018). Surat An-Nahl Ayat 65. Dipetik Januari 9, 2018, dari
TafsirQ: https://tafsirq.com/16-an-nahl/ayat-65
Departemen
Agama RI. (2018). Surat An-Nisa’ Ayat 43. Dipetik Januari 9, 2018,
dari TafsirQ: https://tafsirq.com/4-an-nisa/ayat-43
Departemen
Agama RI. (2018). Surat Fatir Ayat 9. Dipetik Januari 9, 2018, dari
TafsirQ: https://tafsirq.com/35-fatir/ayat-9
Rye,
C., Wise, R., Jurukovski, V., DeSaix, J., Choi, J., & Avissar, Y. (2016).
The Chemical Foundation of Life: Water. Dalam C. Rye, R. Wise, V. Jurukovski,
J. DeSaix, J. Choi, & Y. Avissar, Biology (hal. 47). Houston,
Texas: OpenStax College.
Stacey,
A. (2009, Juni 23). Water and Sanitation. Dipetik Januari 9, 2018,
dari Islam Religion:
https://www.islamreligion.com/articles/2289/water-and-sanitation
The
World Water Council, World Wildlife Fund (WWF) and The Coca-Cola Company.
(2014). 7th World Water Forum: Water for Our Future. Washington, DC:
World Wildlife Fund (WWF).

Walker,
C. (2017, October 3). Why Is Water Important in a Human’s Daily Life?
Dipetik Januari 9, 2018, dari Live Strong:
https://www.livestrong.com/article/366016-why-is-water-important-in-a-humans-daily-life/
 
 

x

Hi!
I'm Mack!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out